PAHLAWAN DALAM JERUJI


PAHLAWAN DALAM JERUJI



            Tan Malaka adalah sosok lelaki kelahiran suliki, Sumatra Barat pada tanggal 02 juni 1897 dengan nama asli Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Anak dari pasangan Rasad Caniago dan Sinah Sinabur ini merupakan keluarga yang mempunyai background pondok pesantren atau bisa dikatakan golongan orang yang agamanya masih sangat kental di daerahnya.

Diawal tulisan yang berjudul Dari Penjara ke Penjara, yang di tulis oleh Tan Malaka sendiri ini dia berkata bahwa  “Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri sendiri”. Itulah kata kata yang paling penulis ingat dalam buku ini, karena buku ini menceritakan riwayat Tan Malaka dari awal dia disekolahkan oleh keluarganya dan sampai dia di penjara oleh Imperialesme Belanda. 

Buku ini dibuat Tan Malaka pada saat dia di penjara Magelang. Dia mendapatkan sel yang sunyi senyap, tidak di campur dengan tawanan lainnya dan dia juga mendapat alat tulis dan meja tulis di dalam sel. Maka timbul ide Tan Malaka untuk menulis meskipun tulisannya itu hanya untuk mengisi kekosongan waktu saja.

Pada awalnya Tan Malaka ingin melanjutkan tulisannya yang berjudul “Aslia” tetapi karena salinannya tidak dia pegang lagi atau hilang karena sudah lima tahun dia menunda tulisannya itu, maka akhirnya dia membuat buku ini.

Tan malaka ingin memberitahu kepada para pembaca bukunya di awal bahwasanya setiap tesis pasti ada antitesisnya, supaya pembaca mendapatkan inspirasi dari apa yang telah di baca dari bukunya ini. Terutama dalam kisah Tan dari awal dia di penjara sampai dia bisa melanglang buana di banyak Negara yang telah dia kunjungi. Ditambah juga bahwa Tan bisa memiliki lebih dari 16 nama di berbagai negara yang pernah dia singgahi tak cuman nama tapi juga kepintaran Tan dalam menguasai bahasa-bahasa yang dia kunjungi.

Hal ini tan lakukan sebagai penyamarannya dalam pelarian politik saat pengejaran imperialisme belanda sekaligus perjalanannya dalam menjelajahi dunia antara lain Belanda, Jerman, Filipina, Tiongkok,  Rusia, Singapura dan masih banyak lagi negara yang dikunjunginya untuk mencari pemahaman serta pengalaman baru. Tak jarang pula tan keluar masuk penjara sebab tertangkap dalam pelariannya tersebut. Dalam isi buku tersebut juga diceritakan pada tahun 1922, Tan Malaka sempat menjadi perwakilan Indonesia dalam Kongres Keempat Komite atau Komunis Internasional. Di kongres tersebut, Tan kemudian ditunjuk sebagai agen komitmen untuk Asia Tenggara serta Australia.

Tan malaka adalah tamatan Kweekschool Bukit Tinggi pada umur 16 tahun di tahun 1913, dan dilanjutkan ke rijks Kweekschool di Harlem, Belanda. Orang yang mau membantu Tan agar bisa sekolah dan hidup di Belanda adalah Direktur II Kweekschool Bukit Tinggi, tuan Horensma. Tuan Horenma lah yang memberi Tan uang agar bisa hidup dan menuntut Ilmu di Belanda dengan layak.
            
Dan pada bulan November tahun 1919 dia berpulang ke kampung halamanya, Tan merasa bahwa dia harus  mengajar di daerahnya sendiri Sumatra Barat. Setelah dia pulang dia merasakan yang sangat terlihat antara kaum terpelajar di Indonesia dengan yang ada di Belanda, terlepas itu dari gaji pengajar ataupun dari apa yang di berikan kepada murid yang ada di daerahnya itu. hal ini yang menggugah tan untuk mengajar bagi anak-anak kuli kontrak yang bekerja perkebunan tembakau yang ada di Deli Sumatera Utara.

Buku ini di karang setelah adanya buku “Aksi Massa” karena buku Aksi Massa dibuat pada saat Tan Malaka berkelana di beberapa Negara tepatnya di Filipina. Karena dia menjadi buronan Internasional yang dinyatakan oleh Bangsa Belanda sebab Tan dianggap menyebarkan paham Komunis yang dirasa oleh Belanda akan merusak rencana dari beberapa Negara kapitalis termasuk Belanda sendiri.

Pada akhiran bab dalam buku ini juga diceritakan bagaimana tan bertemu dengan presiden pertama sekaligus proklamator bangsa yaitu Pak Sukarno. Tak hanya bertemu dengan pak karno, tan juga bertemu dengan Bung Hatta sebagai bagian dari perjuangan tan untuk mendesak agar para tokoh bangsa tidak mengekor kepada para orang-orang jepang pada saat itu.

hal ini yang menjadikan penulis sangat terinspirasi oleh tan terlepas beliau sebagai seorang komunis yang di tolak oleh negara kita, tetapi tulisan-tulisan, pemikiran, pencapaian, serta apa yang dia lakukan merupakan hal yang perlu diketahui dan dikenang oleh masyarakat Indonesia sebagai bagian dari tokoh bangsa. Presiden pertama negara kita  saja yaitu Bapak Soekarno banyak terinspirasi dan terilhami pemikiran-pemikiran yang dituliskan oleh tan, apalagi kita hanya orang biasa yang tak punya arah barang tentu juga harus banyak belajar dari Tan Malaka melalui buku-buku yang ada.

Judul Buku : Dari Penjara ke Penjara
Pengarang : Tan Malaka
Penerbit : Penerbit Narasi
Halaman : 560 Halaman
Resentator : @umam421

Posting Komentar

0 Komentar