membicarakan virus corona memang tidak ada habisnya, kenapa tidak? Dari mulai hadirnya virus corona di wuhan, China sampai saat ini yang membuat dunia semakin terpuruk karena tak bisa membasmi virus ini. Tak bisa dipungkiri bahwa virus ini sangat mempengaruhi tatanan kehidupan yang ada, dari segi ekonomi, pendidikan, sampai sosial budaya yang harus menyesuaikan dengan adanya virus ini.
Berbagai keluhan pun dikeluarkan dari mulut seorang yang merasakan pedihnya perjuangan hidup di tengah pandemic virus corona. Berbagai kegiatan pun modelnya berubah, seperti sekolah, kampus tempat swalayan, hingga pasar. Dulu kita bisa dengan mudah melaksanakan kontak sosial tanpa harus menjaga jarak, memakai masker, hingga mencuci tangan dan sekarang hal itu wajib kita lakukan. Hal ini yang sangat mempengaruhi roda kehidupan dan kita pun dituntut untuk bisa menyesuaikannya.
Dampak dari virus ini juga dirasakan oleh para aktivis, khususnya para mahasiswa yang bergelut di dunia organisasi. Organisasi menjadi tidak stabil, yang mengharuskan para mahasiswa untuk belajar di rumah, melakukan segala hal di rumah saja dan tidak untuk melaksanakan kegiatan internal organisasi.
stabilitas organisasi sangat diperlukan sebagai pendukung utama dalam menjalankan program kerja untuk mencapai visi organisasi. permasalahan klasik yang paling berpengaruh dalam stabilitas sebuah organisasi adalah kaderisasi yang tersendat dan permasalahan 3K (kontrol, koordinasi dan komunikasi) yang tidak berjalan dengan baik.
Dalam teori Komunikasi Organisasi, Goldhaber seorang pemikir kelahiran Jerman menjelaskan bahwa komunikasi organisasi merupakan proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain. Kemudian, Ia juga menjelaskan bahwa komunikasi organisasi bertujuan untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti dan selalu berubah ubah. Makna lingkungan yang dimaksud profesor fisika di University of California, Berkeley, adalah semua totalitas baik fisik maupun sosial yang diperhitungkan dalam pengambilan keputusan mengenai individu dalam suatu sistem yang disebut organisasi. lingkungan ini dapat dibedakan atas lingkungan internal dan eksternal organisasi.
Dapat diartikan organisasi dipandang sebagai struktural global yang berinteraksi dengan lingkungan nya, memproses informasi dari lingkungannya. Dalam artian bersosial kepada masyarakat adalah salah satu pendekatan komunikasi sehingga kordinasi dan kontrol akan berjalan dengan baik.
Dalam keadaan seperti ini apakah bersosial secara langsung bisa dilaksanakan untuk mempertahankan stabilitas organisasi? Tentu saja tidak. Berbagai kegiatan di rumah saja dilakukan oleh para pengurus dari organisasi untuk mempertahankan stabilitas organisasinya.
Contohnya yang lagi tren saat ini yaitu kegiatan yang dilaksanakan melalui via wathsapp ataupun aplikasi zoom, misalnya saja kajian online yang sebenarnya bertujuan untuk memberikan kebutuhan intelektual kepada kader. Pertanyaannya apakah efektif melakukan kegiatan seperti ini?
Dari beberapa kajian online yang penulis ikuti, ada beberapa kendala ataupun masalah yang membuat kajian di rumah saja tidak berjalan efektif, misalnya kajian yang rancu dikarenakan proses kajian yang tidak tertib, adapula prsepsi mengatakan kajian seperti ini terlalu membosankan. Bisa dikatakan, kajian di rumah saja ini tidak berpengaruh dalam upaya mempertahankan kestabilan suatu organisasi.
Kontrol, komunikasi, dan koordinasi yang kurang massif yang terjadi dalam proses pelaksanaan kegiatan tersebut. Secara tidak langsung akan berdampak dalam stabilitas organisasi. Untuk mempertahankan kestabilan suatu organisasi, apalagi dengan kondisi yang membuat jarak yang begitu jauh, menurut saya yang paling terpenting saat ini yaitu KOMUNIKASI. Mengapa?
Pentingnya komunikasi memang tidak dapat disangkal. Apabila komunikasi sudah tidak terjalin di sebuah organisasi, maka otomatis koordinasi dan kontrol tidak akan berjalan, dan stabilitas organisasi menjadi tidak karuan sehingga mengakibatkan sebuah organisasi akan mati.
Bagamaimana Kaderisasi PMII Selanjutnya ?
Ada suatu istilah yang sudah familiar dikalangan warga PMII yakni “Kaderisasi merupakan jantungnya sebuah Organisasi”. Adagium tersebut merupakan sebuah fakta didalam paradigma berjalannya suatu organisasi, adanya anggota ataupun kader merupakan sesuatu yang sangat vital sebagai penggerak mesin Organisasi. Salah satu Organisasi yang tetap eksis sebagai organ kaderisasi adalah PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang secara hierarki turun dari tingkat PB sampai tingkatan Rayon.
PMII mempunyai fungsi yang mendasar yaitu kaderisasi, sesuai dengan tugas PMII “terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, cakap dan bertanggungjawab, mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia (Tujuan PMII, Pasal 4 AD/ART).
Dan Dalam waktu dekat, PMII akan menyambut mahasiswa baru seiring dengan pembukaan tahun ajaran baru. Penyambutan yang beda dari biasanya, tahun ini berdampingan dengan fenomena pandemi yang tak kunjung usai. Efeknya, kegiatan kaderisasi yang semula biasa kita sambut dengan euforia hingar-bingar dan kumpul-kumpul, mungkin akan mengalami penyesuaian-penyesuaian.
Dari sini bisa kita tela’ah bersama bahwasanya PMII harus mempunyai suatu trobosan yang jelas untuk menyikapi hal diatas. Dengan susahnya komunikasi antar pengurus karena tidak bisa berkumpul dengan skala besar, sulitnya menjalin koordinasi melalui media karena terkendala kuota, atau bahkan kurangnya kesadaran dari pengurus untuk menyikapinya dan masih banyak lagi.
Tradisi online, suatu metode yang cara kerjanya adalah cepat guna dan jarak jauh, bisa dilihat bawahsanya ruang metode yang berbeda dengan hasil yang berbeda pula daripada metode yang seperti biasanya. Pengaruh Covid-19, secara global mengarah pada penggunaan teknologi digital yang masih merangkak bagi dunia pendidikan di indonesia, terutama dalam siklus PMII.
Dalam teori yang disampaikan Goldhaber diatas tentang komunikasi organisasi, bagaimana suatau organisasi bisa menciptakan proses saling menukar fikiran dan pendapat dalam suatu jaringan hubungan yang saling ketergantung satu sama lainnya dan bisa mengatasi lingkungan yang tidak pasti dan berubah-ubah.
Sikap berubah-ubah itulah yang mendorong kita sebagai mahasiswa pergerakan khusunya PMII, untuk bisa adaptif terhadap tantangan yang bermunculan. Seperti yang saat ini dirasakan dalam hal pertemuan, acara offline yang ada batasan pesertanya. Kemampuan adaptasi itulah yang akan menetukan sejauh mana gerakan PMII bisa bertahan dengan situasi seperti ini.
Maka kita sebagai kader yang sudah memahami dinamika organisasi harus mampu menyikapinya dengan hal-hal baru yang bertujuan untuk keberlangsungan organisasi. Contohnya dengan kita mengadakan forum-forum kecil yang pembahasannya secara intens terkait kaderisasi, membuat pertemuan berskala kecil dengan calon anggota baru yang memberi pandangan terhadap PMII.
tak lepas pula kita dituntut untuk melakukan pengenalan kepada anggota baru dengan menggunakan media WhattShap, Instagam, Youtube dan media online lainnya dengan secara intens. Sebab yang penulis rasa menciptakan pendekatan emosional terhadap individu harus dilakukan terus menerus sehingga kita bisa menciptakan lingkungan yang searah dengan apa yang ingin kita tuju.
Tidak bisa dipungkiri bahwa di tengah pandemi virus corona, kita sudah dituntut untuk berfikir keras dalam menjalankan sebuah organisasi dalam keadaan seperti ini. Walapun jarak yang berjauhan tapi jangan biarkan mengikutsertakan jiwa kita kedalamnya. Karena ini adalah tanggung jawab bersama.

0 Komentar