"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda" ~Tan Malaka
Salah satu kata-kata yang tak asing bagi telinga mahasiswa dimanapun dia menempuh jenjang pendidikan di Universitas. Hal ini juga yang biasanya banyak disampaikan oleh senior atau kakak tingkat lingkungan kampus manapun.
Apalagi biasanya banyak juga dibeberapa universitas besar, kita sering menjumpai banyak mahasiswa yang dianggap sebagai aktivis atau bahkan mengklaim dirinya sendiri sebagai aktivis. Tanpa didasari oleh landasan pemikiran yang kuat serta analisis yang tajam. Sebab, tak sedikit pula mahasiswa yang ingin mendapatkan validasi tersebut dari mahasiswa lainnya.
Tapi, apa jadinya kalau kata-kata diatas sekarang hanya sebuah goresan kata yang tak dimaknai oleh mahasiswa itu sendiri?. Kenapa bisa seperti itu?, sudah menjadi rahasia umum bahwa dinamikan kehidupan dalam kampus sangat amat dinamis. Berbagai watak, pola pikir hingga ideologi yang berbeda-beda menjadi salah satu faktornya.
Nahasnya lagi, jika terdapat aktivis jelas-jelas memiliki ideologi ditambah dia berjubah organisasi besar akan tetapi dirinya sendiri justru mencoreng nama baik organisasi tersebut. Sesungguhnya banyak faktor yang menjadikan mahasiwsa tersebut menodai nama baik organisasi yang dia ikuti.
Lalu apa saja faktornya?, pertama bisa jadi karena dia melakukan demo yang sifatnya titipan dari oknum yang berkepentingan (proyek geden bos) ada juga yang mengaku bahwa kekerasan seksual itu wajib diberantas entah didalam ruang kampus atau diluar akan tetapi aktivis tersebut justru menjadi pelaku juga. Lalu ada juga yang melakukan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dalam organisasi atau lembaga yang mereka ikuti. Ini hanya secuil faktor penyebab banyaknya aktivis yang sering dipandang buruk dan menodai organisasi yang mereka ikuti, dalam hal ini ssaya sebut sebagai OKNUM.
Selanjutnya bagaimana seorang mahasiswa atau aktivis ini bisa di akui, jika tingkah perilakunya tersebut sama saja dengan orang-orang yang mereka anggap bajingan yang tak berpendidikan. Mereka justru akan dicecar dan dianggap buruk sebab perilakunya sendiri.
Mahasiswa yang katanya mendapatkan keistimewaan sendiri sebab bisa menempuh pendidikan lebih tinggi dari yang lain, justru melakukan hal bodoh layaknya orang yang tak berpendidikan.
Kawan-kawan pernah mendengar lagunya Wiji Thukul? Iya, lagu yang berjudul "Apa Guna" kurang lebih seperti ini;
"Apa guna punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa guna banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu"
Dari lirik lagu diatas menggambarkan betul bagaimana hal penting yang ingin disampaikan Wiji Thukul bukan mainan atau hanya sekedar lagu-lagu yang tak memiliki arti apapun.
Sayang sekali memang jika banyak aktivis yang tak selaras dengan tujuan dan hanya memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Lagi-lagi saya harus mengakui bahwa tidak semua aktivis seperti itu, tapi tak sedikit pula yang lupa akan jatidirinya sebagai seorang aktivis dan akhirnya saya anggap sebagai OKNUM.
Oknum yang hanya mencari eksistensi, jabatan, kepopuleran, pengakuan, bahkan sampai cuan tanpa tau arah tujuan awal perjuangan. Itulah yang dewasa ini menjadikan stigma buruk seorang aktivis.
Semoga saja apa yang saya tulis ini hanya keresahan pribadi dan semoga tak sampai terjadi di dunia nyata. Sebab aku masih percaya bahwa yang berjuang tanpa ada bayaran masih bertahan, yang menjaga idealitas masih tak terbatas, yang totalitas untuk hal waras tetap selaras.
Terakhir aku ingin mengutip satu kata-kata untuk para aktivis disemua kalangan.
"Ilmu dan baktiku berikan
Adil dan makmurku perjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku"
.jpeg)
2 Komentar
Toh tulisan ini hanya sebuah opini,,xixixi